Pages Navigation Menu
bismillah

Tanda - Tanda Akhir Zaman Menurut Islam

mukadimah

Definisi & Arti Fitnah Dalam Islam

Fitnah

Kajian tematik definisi dan arti fitnah dalam Al-Quran atau Hadits dan bahasa Arab.

A. Pendahuluan

Dalam keseharian sering terdengar kata-kata, “Itu fitnah. Saya sama sekali tidak melakukannya.” Kata-kata ini disampaikan seseorang ketika membantah tuduhan yang diarahkan kepadanya. Orang juga berkata, “Hati-hati, fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan!” ketika mengingatkan supaya tidak sembarang menuduh. Dua kata fitnah di sini berarti tuduhan tidak berdasar. Dalam bahasa Indonesia, fitnah berarti demikian.

Kata yang sama juga terdapat al-Qur`an. Ia cukup sering menyebut kata tersebut.  Bahkan ketika kita berkata, “Fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan,” kita bermaksud mengutip al-Qur`an yang pada salah satu ayatnya menyatakan demikian. Pertanyaannya adalah, apakah makna fitnah yang dikehendaki al-Qur`an sama dengan yang kita maksud? Dalam hal apa saja al-Qur`an mengggunakan kata tersebut? Makna-makna apa saja yang ditimbulkan oleh kata tersebut ketika al-Qur`an menyebutkannya dalam berbagai konteks ayat dan dalam aneka bentuknya?

B. Makna Leksikal Fitnah

Kata fitnah memiliki arti antara lain al-ibtilâ`, al-imtihân dan al-ikhtibâr. Kesemuanya berarti cobaan dan ujian. Akar kata fitnah adalah fatana. Ketika seseorang berkata fatantu al-fidhdhah wa al-dzahab, artinya adalah bahwa ia membakar perak dan emas dengan api untuk memilah keduanya yang baik dari yang kurang baik. Fatn, salah satu derivasi fitnah, berarti al-ihrâq (membakar). Sebagaimana firman-Nya: يومَ هم على النارِ يُفْتَنُونَ. Yuftanûn di sini artinya yuhraqûn (dibakar). Ibn al-Arabî seperti dikutip Ibn Manzhur dalam Lisân al-’Arab berkata: “Fitnah itu (beragam arti dan bentuknya), ia dapat berarti ikhtibar (ujian), mihnah (cobaan), mâl (harta), awlâd (anak keturunan), kufr (kufur), ikhtilâf al-nâs bî al-arâ (perselisihan paham manusia), dan ihrâq (membakar). Fitnah juga ditujukan kepada takwil yang zalim (penafsiran liar tanpa dasar yang tujuannya membela kepentingan pribadi). Seseorang yang tergila-gila mencari dunia juga disebut sebagai terfitnah oleh dunia.”[1]

C. Term Fitnah dalam al-Qur’an

Term fitnah dalam al-Qur`an dalam semua derivasinya terulang tidak kurang dari 87 kali. Dari jumlah ini, ada yang disampaikan dalam bentuk fi’il mâdhî, fiil mudhâri’, mashdar, isim fâ’il, dan isim maf’ûl. Berikut ulasan singkat untuk masing-masing bentuk tersebut.

1. Fiil Mâdhi (فَتَنَّا, فَتَنْتُمْ  , فُتِنُوا, dan فُتِنْتُمْ)

Term فَتَنَّا terdapat dalam QS al-An’âm/6: 53, Thâhâ/20: 40, 85, Shâd/38: 24, 34, al-Dukhân/44: 17, فَتَنْتُمْ  terdapat dalam QS al-Hadîd/57: 14), فَتَنُوا ada dalam QS al-Burûj/85: 10, فُتِنُوا terdapat pada QS al-Nahl/16: 110, danفُتِنْتُمْ  terdapat pada QS Thâhâ/20: 90. Dalam kesemua ayat ini, term fitnah bermakna ujian dan cobaan, kecuali pada QS al-Hadîd/57: 14 yang berarti mencelakakan diri sendiri.

2. Fiil Mudhâri’ (يَفْتِن, يَفْتِنُو, يَفْتِنَنَّ, يُفْتَنُونَ, dan sebagainya)

Term يَفْتِن terdapat pada QS al-Nisâ`/4: 101. Pada ayat ini term fitnah berarti menyerang. Term ini juga terdapat pada QS Yûnus/10: 83. Pada ayat ini berarti menyiksa. يَفْتِنُو terdapat pada QS al-Mâ`idah/5: 49, artinya memalingkan. يَفْتِنَنَّ terdapat pada QS al-A’râf/7: 27, artinya menipu. يُفْتَنُونَ terdapat pada QS al-Tawbah/9: 126 dan al-’Ankabût/29: 2-3, pada keduanya berarti ujian. Term ini juga terdapat dalam QS al-Dzâriyât/51: 13, artinya azab. يَفْتِنُونَ terdapat pada QS al-Isrâ`/17: 73, artinya memalingkan. نَفْتِنَ terdapat pada QS Thâhâ/20: 131, artinya cobaan. تُفْتَنُونَ terdapat pada QS al-Naml/27: 47, artinya ujian. نَفْتِنَ terdapat pada QS al-Jinn/72: 17, artinya cobaan.

3. Mashdar(فِتْنَة)

Term ini terdapat dalam tidak kurang dari 32 ayat. Dalam QS al-Baqarah/2: 102, al-A’râf/7: 155, al-Anfâl/8: 25, al-Anbiyâ`/21: 35, al-Anbiyâ`/21: 111, al-Hajj`/22: 53, al-Nûr/24: 63, al-Furqân/25: 20, al-Qamar/54: 27, al-Taghâbun/64: 15, dan al-Mudatstsir/74: 31 term fitnah berarti cobaan. Pada QS al-Baqarah/2: 191, 193, al-Anfâl/8: 73 dan al-Tawbah/9: 47-49 term fitnah merujuk pada makna kekacauan. Pada QS al-Baqarah/2: 217 term fitnah berarti penganiayaan (penindasan). Dalam QS Âli ‘Imrân/3: 7 term fitnah berarti keraguan dan kesamaran. Pada QS al-Nisâ`/4: 91 term fitnah bermakna syirik. Dalam QS al-Mâ`idah/5: 41 term fitnah berarti kesesatan. Pada QS al-Mâ`idah/5: 71 term fitnah berarti bencana. Pada QS al-An’âm/6: 23 term fitnah berarti jawaban dusta (kedustaan). Dalam QS al-Anfâl/8: 39 term fitnah berarti gangguan. Dalam QS Yûnus/10: 85 dan al-Mumtahanah/60: 5 term fitnah berarti sasaran kezaliman. Dalam QS al-Isrâ`/17: 60 dan al-Zumar/39: 49 term fitnah berarti ujian. Dalam QS al-Hajj`/22: 11 term fitnah berarti bencana. Dalam QS al-’Ankabût/29: 10 term fitnah berarti penganiayaan. Pada QS al-Ahzâb/33: 14 term fitnah berarti murtad. Dan dalam QS al- Shâffât/37: 63 term fitnah berarti siksaan.

4. Isim Fâ’il (فَاتِنِينَ)

Term ini terdapat dalam QS al- Shâffât/37: 162 dan berarti orang-orang yang menyesatkan.

5. Isim Maf’ûl (مَفْتُونُ)

Term ini terdapat dalam QS al-Qalam/68: 6 dan berarti gila.

D. Term-Term Yang Berhubungan Dengan Term Fitnah

Dalam QS al-Nisâ`/4: 101 term fitnah yang berarti serangan ditimbulkan oleh orang-orang kafir. Dalam QS al-A’râf/7: 27 term fitnah berarti tipuan. Dalam ayat ini tipuan tersebut dilakukan oleh setan. Dalam QS al-Tawbah/9: 126 dinyatakan bahwa orang-orang munafik difitnah dalam arti diuji, tapi mereka tidak juga bertobat dan tidak pula mengambil pelajaran. Pada QS Yûnus/10: 83 disebutkan bahwa fitnah yang berarti siksaan berasal dari Fir`aun dan pemuka-pemuka kaumnya. Dalam QS al-Isrâ`/17: 73 dinyatakan bahwa orang-orang kafir hampir mem-fitnah dalam arti memalingkan orang-orang Mukmin dari apa yang telah diwahyukan Allah.

Dalam QS Thâhâ/20: 131 term fitnah berarti cobaan berupa bunga kehidupan dunia di mana orang-orang Mukmin dilarang mengarahkan matanya kepada orang-orang yang mendapat cobaan tersebut. Pada QS al-Naml/27: 47 dinyatatakan bahwa kaum yang mendapat fitnah yang berarti ujian adalah kaum Nabi Shaleh. Dalam QS al-’Ankabût/29: 2 dinyatakan bahwa orang-orang yang secara lisan telah mengatakan beriman akan mendapat fitnah dalam arti ujian. Sedang dalam ayat selanjutnya (ayat 3) disebutkan bahwa Allah telah memfitnah dalam arti menguji orang-orang terdahulu yang dengan ujian itu diketahui mana orang-orang yang benar dan mana orang-orang yang dusta.

Dalam QS al-Dzâriyât/51: 13 disebutkan bahwa pada hari pembalasan orang-orang durhaka akan mendapatkan fitnah dalam arti azab di atas api neraka. Dalam QS al-Baqarah/2: 102 dinyatakan bahwa apa yang diajarkan oleh dua malaikat di negeri Babil, yaitu Harut dan Marut, kepada manusia sebagai fitnah dalam arti cobaan bagi mereka. Dalam QS al-Baqarah/2: 191 ditegaskan bahwa fitnah dalam arti kekacauan yang disulut oleh orang-orang kafir lebih besar bahayanya dari pembunuhan. Dalam QS al-Baqarah/2: 193 Allah menyuruh memerangi orang-orang kafir yang menyulut fitnah dalam arti kekacauan agar ketaatan hanya semata-mata untuk Allah.

Dalam QS al-Baqarah/2: 217 ditegaskan bahwa fitnah dalam arti penganiayaan atau penindasan yang dilakukan oleh orang-orang kafir lebih besar dosanya daripada membunuh. Dalam QS Âli ‘Imrân/3: 7 disebutkan bahwa orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyâbihât untuk menimbulkan fitnah dalam arti keraguan dan kesamaran. Dalam QS al-Nisâ`/4: 91 disebutkan bahwa akan didapati golongan yang setiap mereka diajak kembali kepada fitnah dalam arti syirik, mereka pun terjun ke dalamnya. Dalam QS al-Mâ`idah/5: 41 dinyatakan bahwa barangsiapa yang Allah menghendaki fitnahnya dalam arti kesesatannya, maka sekali-kali kita tidak akan mampu menolak sesuatu pun yang datang daripada-Nya.

Dalam QS al-Mâ`idah/5: 71 disebutkan bahwa para pembunuh para nabi mengira bahwa tidak akan terjadi suatu fitnah dalam arti bencana terhadap mereka dengan membunuh nabi-nabi itu. Dalam QS al-An’âm/6: 23 dinyatakan bahwa fitnah dalam arti jawaban dusta dari orang yang membuat kedustaan terhadap Allah atau mendustakan ayat-ayat-Nya adalah: “Demi Allah, Tuhan kami, tiadalah kami mempersekutukan Allah.” Dalam QS al-A’râf/7: 155 disebutkan bahwa gempa bumi yang menggoncang tujuh puluh orang yang dipilih Nabi Musa dari kaumnya untuk memohonkan tobat kepada Allah sebagai fitnah dalam arti cobaan dari-Nya. Dalam QS al-Anfâl/8: 25 dinyatakan bahwa fitnah dalam arti azab di dunia tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja.

Dalam QS al-Anfâl/8: 28 ditegaskan bahwa harta dan anak-anak hanyalah fitnah dalam arti cobaan. Dalam QS al-Anfâl/8: 39 Allah memerintahkan memerangi kaum kafir yang menimbulkan fitnah dalam arti gangguan supaya agama itu semata-mata untuk Allah. Dalam QS al-Anfâl/8: 73 ditegaskan bahwa jika kaum Muslimin tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah, niscaya akan terjadi fitnah dalam arti kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar. Dalam QS al-Tawbah/9: 47 dinyatakan bahwa fitnah dalam arti kekacauan ditimbulkan oleh orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian serta hati mereka diliputi keragu-raguan. Dalam ayat selanjutnya (ayat 48) disebutkan bahwa mereka itu dari dahulu telah mencari-cari fitnah dalam arti kekacauan. Sedang dalam ayat 49 dinyatakan bahwa meskipun mereka menginginkan tidak terjerumus dalam fitnah (kekacauan), sesungguhnyalah mereka telah terjerumus ke dalamnya.

Dalam QS Yûnus/10: 85 disebutkan bahwa orang-orang yang beriman kepada Nabi Musa memohon kepada Allah agar mereka tidak dijadikan sasaran fitnah yang ditimbulkan oleh kaum yang zalim. Dalam QS al-Isrâ`/17: 60 disebutkan bahwa mimpi yang telah Allah perlihatkan kepada Muhammad sebagai fitnah dalam arti ujian bagi manusia. Dalam QS al-Anbiyâ`/21: 35 dinyatakan bahwa keburukan dan kebaikan sebagai fitnah dalam arti cobaan. Dalam QS al-Hajj`/22: 11 disebutkan bahwa ada orang yang jika ditimpa suatu fitnah dalam arti bencana ia kembali kepada kekafiran.

Dalam QS al-Hajj`/22: 53 dinyatakan bahwa godaan setan merupakan fitnah dalam arti cobaan bagi orang-orang yang kasar hatinya dan orang yang dalam hatinya ada penyakit. Dalam QS al-Nûr/24: 63 ditegaskan bahwa orang-orang yang menyalahi perintah Rasul hendaklah takut akan ditimpa fitnah berupa cobaan atau azab yang pedih. Dalam QS al-Furqân/25: 20 ditegaskan bahwa Allah menjadikan sebagian kita sebagai fitnah yang berarti cobaan bagi sebagian lainnya. Pada QS al-’Ankabût/29: 10 dinyatakan bahwa ada orang yang mengaku beriman kepada Allah, tetapi ketika ia mendapat fitnah dalam arti penganiayaan dari manusia ia menganggap fitnah itu sebagai azab Allah.

Dalam QS al-Ahzâb/33: 14 disebutkan bahwa kalau kota Yatsrib diserang dari segala penjuru, kemudian orang-orang munafik dan orang-orang yang hatinya berpenyakit diminta supaya melakukan fitnah dalam arti murtad, niscaya mereka mengerjakannya. Dalam QS al- Shâffât/37: 63 disebutkan bahwa Allah menjadikan pohon zaqqum sebagai fitnah dalam arti siksaan bagi orang-orang yang zalim. Dalam QS al-Zumar/39: 49 dinyatakan bahwa bahaya dan nikmat merupakan fitnah dalam arti ujian. Dalam QS al-Qamar/54: 27 disebutkan bahwa unta betina yang keluar dari batu merupakan fitnah dalam arti cobaan bagi kaum Nabi Shaleh. Dalam QS al-Mumtahanah/60: 5 disebutkan bahwa Nabi Ibrahim pernah memohon kepada Allah supaya tidak menjadikan dirinya sebagai fitnah dalam arti sasaran fitnah bagi orang-orang kafir.

Dalam QS al-Taghâbun/64: 15 ditegaskan bahwa harta dan anak-anak hanyalah fitnah dalam arti cobaan. Dalam QS al-Mudatstsir/74: 31 disebutkan bahwa bilangan para malaikat penjaga neraka merupakan fitnah dalam arti cobaan bagi orang-orang kafir. Dalam QS al-Dzâriyât/51: 13-14 dinyatakan bahwa pada hari pembalasan kelak orang-orang durhaka difitnah dalam arti diazab di atas api neraka. Dalam QS al- Shâffât/37: 162 ditegaskan bahwa siapa pun tidak dapat mem-fitnah dalam arti menyesatkan seseorang terhadap Allah. Sedang dalam QS al-Qalam/68: 6 disebutkan bahwa orang-orang kafir yang biasa mengolok-olok Muhammad gila akhirnya akan tahu siapa di antara mereka yang sebenarnya terkena fitnah dalam arti gila.

E. Wawasan al-Qur’an Tentang Fitnah

1. Bentuk-bentuk Fitnah

Dari data tentang ayat-ayat fitnah di atas diperoleh banyak sekali arti dan bentuk fitnah dalam al-Qur`an. Sebagai berikut:

  • Permusuhan/serangan seperti terlihat dalam QS al-Nisâ`/4: 101.
  • Siksaan sebagaimana termaksud dalam QS. Yûnus/10: 83.[2]
  • Upaya memalingkan seperti terdapat dalam QS al-Mâ`idah/5: 49.[3]
  • Tipuan sebagaimana termaksud dalam QS al-A’râf/7: 27.
  • Ujian sebagaimana disebutkan dalam banyak ayat seperti QS al-Tawbah/9: 126.[4]
  • Azab  sebagaimana termaksud dalam QS al-Dzâriyât/51: 13.
  • Cobaan seperti termaksud dalam QS Thâhâ/20: 131.[5]
  • Kekacauan seperti termaksud dalam QS al-Baqarah/2: 191.[6]
  • Penindasan seperti termaksud dalam QS al-Baqarah/2: 217.
  • Keraguan dan kesamaran sebagaimana terdapat dalam QS Âli ‘Imrân/3: 7:
  • Syirik sebagaimana termaksud dalam QS al-Nisâ`/4: 91.
  • Kesesatan seperti termaksud dalam QS al-Mâ`idah/5: 41.[7]
  • Bencana sebagaimana termaksud dalam QS al-Mâ`idah/5: 71.[8]
  • Jawaban dusta sebagaimana termaksud dalam QS al-An’âm/6: 23.
  • Penganiayaan sebagaimana termaksud dalam QS al-’Ankabût/29: 10.
  • Murtad seperti termaksud dalam QS al-Ahzâb/33: 14.
  • Gila seperti termaksud dalam QS al-Qalam/68: 6.

Dari banyak term berikut arti dan bentuk fitnah di atas serta sejumlah ayat yang memuatnya, dalam tulisan ini akan dibahas tiga ayat saja yang—dalam hemat penulis—paling sering muncul dalam perbincangan mengenai fitnah dalam kehidupan keseharian. Yaitu QS al-Baqarah/2: 191, 217 dan QS al-Anfâl/8: 28.

- QS al-Baqarah/2: 191:

وَاقْتُلُوهُمْ حَيْثُ ثَقِفْتُمُوهُمْ وَأَخْرِجُوهُمْ مِنْ حَيْثُ أَخْرَجُوكُمْ وَالْفِتْنَةُ أَشَدُّ مِنَ الْقَتْلِ

Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu (Mekah); dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan.

Dengan ayat ini Allah, kata al-Thabarî, memerintahkan kaum Mukmin untuk memerangi orang-orang yang memerangi mereka, yaitu kaum musyrik. “Bunuh dan perangi mereka di mana pun kalian dapat melakukanya.” Mereka (kaum musyrik) telah mengusir kaum Muhajirin dari tanah air dan tempat tinggal mereka di Mekah. Kepada kaum Muhajrin Allah berkata: “Usirlah mereka yang memerangi kalian dan telah mengusir kalian dari tempat tinggal dan tanah air kalian (Mekah), sebagaimana mereka telah mengusir kalian darinya.”[9]

“Dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan.” Membuat kekacauan di muka bumi, mengusir kaum  Mukmin dari tanah air dan tempat tinggal mereka, menyakiti, menggangu, menganiaya kaum Mukmin karena agama yang mereka yakini, semua itu merupakan fitnah terhadap agama. Fitnah terhadap agama merupakan penganiayaan terhadap sesuatu yang paling suci dan agung dalam kehidupan manusia. Oleh karena itu, ia lebih bahaya dari membunuh jiwa atau menghilangkan nyawa. Sama saja apakah fitnah ini baru berupa ancaman atau berupa tindakan nyata mengganggu (menyakiti), atau menimbulkan suasana kacau yang menyesatkan manusia, merusak dan menjauhkan mereka dari agama Allah.

Hal termulia dalam diri manusia adalah kebebasan beragama dan berkeyakinan. Berangsiapa merampas kebebasan ini dari seseorang, atau berupaya memalingkannya dari agama yang diyakininya secara langsung atau tidak, maka ia dihukum dengan hukuman yang lebih berat dari hukuman pembunuhan. Karena beratnya hukuman itu, ayat kemudian menggunakan kata وَاقْتُلُوهُمْ (bunuhlah mereka) bukan وقاتلوهم (perangilah mereka). “Bunuhlah mereka di mana pun kalian menjumpai mereka, dalam keadaan apa pun mereka, dan dengan cara apa pun yang kalian miliki.” Tentu saja dengan tetap menjaga etika Islam seperti tidak membunuh secara berlebihan, tidak membunuh dengan cara membakar, dan tidak melakukannya di Masjid Haram, kecuali terhadap orang-orang kafir yang tidak mengindahkan kehormatan masjid ini di mana mereka memulai memerangi kaum Muslim di masjid tersebut.[10]

- QS al-Baqarah/2: 217:

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الشَّهْرِ الْحَرَامِ قِتَالٍ فِيهِ قُلْ قِتَالٌ فِيهِ كَبِيرٌ وَصَدٌّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَكُفْرٌ بِهِ وَالْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَإِخْرَاجُ أَهْلِهِ مِنْهُ أَكْبَرُ عِنْدَ اللَّهِ وَالْفِتْنَةُ أَكْبَرُ مِنَ الْقَتْلِ

Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah: “Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar; tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah, (menghalangi masuk) Masjidilharam dan mengusir penduduknya dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) di sisi Allah. Dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh.

Ayat ini turun dalam rangka menegaskan kemuliaan bulan haram dan bahwa berperang dalam bulan ini merupakan dosa besar. Ya, memang demikian. Akan tetapi, menghalangi manusia dari jalan Allah, kafir kepada-NYa, menghalangi masuk Masjid Haram dan mengusir penduduknya dari sekitarnya, lebih besar dosanya di sisi Allah.

Kaum Muslim tidak memulai perang. Mereka tidak memulai mengadakan serangan. Kaum kafirlah yang menghalangi manusia dari jalan Allah, kafir kepada-Nya dan menghalangi masuk Masjid Haram. Mereka telah melakukan segala dosa besar untuk menghalangi manusia dari jalan Allah. Mereka telah kafir kepada Allah dan menjadikan manusia kafir kepada-Nya. Mereka telah berbuat kafir terhadap Masjid Haram; melanggar kemuliaannya dengan mengganggu kaum Muslim di dalamnya, serta menganiaya kaum Muslim selama 13 tahun sebelum hijrah. Mereka telah mengusir penduduk tanah haram darinya padahal Allah telah menjadikannya tempat yang aman.

Mengusir penduduk tanah haram lebih besar dosanya di sisi Allah dari perang di bulan haram. Dan berbuat aniaya terhadap manusia karena agama dan keyakinan mereka lebih besar bahayanya di sisi Allah dari pembunuhan. Kaum musyrikin telah melakukan dua dosa besar ini. Maka, kejahatan dan kezaliman mereka yang lebih besar dosa dan bahayanya daripada berperang di bulan haram itu, harus ditumpas di manapun dan kapan pun; di bulan haram sekalipun.[11]

- QS al-Anfâl/8: 28:

وَاعْلَمُوا أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ

Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.

Kata fitnah pada ayat di atas, menurut Ibn Katsîr, berarti ikhtibâr wa imtihân (cobaan dan ujian). Berdasarkan ayat ini, harta dan anak-anak merupakan cobaan dan ujian dari-Nya bagi manusia yang mendapatkan keduanya supaya diketahui apakah mereka bersyukur kepada-Nya atas harta dan anak-anak itu serta menaati-Nya, ataukah mereka disibukan dan dipalingkan dengan keduanya dari-Nya. Senada dengan ayat ini, QS al-Taghâbun/64: 14, 51, al-Anbiyâ`/21: 53, dan al-Munâfiqûn/63: 9.

Jika harta dan anak-anak hanya cobaan, maka di sisi Allah-lah pahala yang besar. Pahala, karunia dan surga-Nya lebih baik dari harta dan anak-anak. Sebab terkadang ada di antara mereka yang malah menjadi musuh dan banyak pula yang tidak mampu memberi kebaikan apa-apa. Allah-lah Pangatur dan Pemilik dunia dan akhirat. Di sisi-Nya pahala yang banyak di hari kiamat. Demikian Ibn Katsîr mengomentari ayat ini.[12] Menguatkan pernyataannya ini, ia mengutip hadits:

Ada tiga hal yang jika dimiliki seseorang maka ia akan menemukan manisnya iman. Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari selain keduanya; mencintai seseorang dan ia tidak mencintanya melainkan karena Allah; dan ia lebih suka dilemparkan ke dalam api daripada kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkannya darinya (HR. al-Bukhârî).

Bahkan, demikian Ibn Katsîr, kecintaan kepada Rasulullah Saw. harus melebihi kecintaan pada anak-anak, harta dan jiwa. Sebagaimana sabda beliau:

Demi Zat Yang jiwaku di Tangan-Nya, tidaklah beriman seseorang dari kalian sehingga aku lebih ia cintai dari dirinya, keluarganya, hartanya dan manusia seluruhnya (HR. al-Bukhârî dan Muslim).[13]

2. Pelaku Fitnah

Dari data tentang ayat-ayat fitnah, diperoleh keterangan bahwa para pelaku fitnah itu antara lain:

a. Orang-orang Kafir; Fitnah yang dilakukan oleh orang-orang kafir berupa:

  1. Serangan atau permusuhan terhadap kaum Mukmin seperti dapat dibaca dalam QS al-Nisâ`/4: 101.
  2. Upaya memalingkan orang-orang Mukmin dari apa yang telah diwahyukan Allah sebagai mana terbaca dalam QS al-Isrâ`/17: 73.
  3. Kekacauan sebagaimana terlihat dalam QS al-Baqarah/2: 191, 193 dan al-Tawbah/9: 47, 48 dan 49.
  4. Penganiayaan atau penindasan sebagaimana terdapat dalam QS al-Baqarah/2: 217 dan al-Mumtahanah/60: 5.
  5. Gangguan sebagaimana terlihat dalam QS al-Anfâl/8: 39.
  6. Olok-olok seperti terbaca dalam QS al-Qalam/68: 6.

b. Setan; Fitnah yang dilakukan oleh setan adalah berupa tipuan, sebagaimana terlihat dalam QS al-A’râf/7: 27.

c. Fir’aun dan Para Pemukanya; Fitnah yang dilakukan oleh Fir’aun dan para pemukanya adalah berupa siksaan, seperti terlihat dalam QS al-Yûnus/10: 83.

d. Malaikat Harut dan Marut; Fitnah dalam arti cobaan yang dilakukan oleh malaikat Harut dan Marut adalah berupa ilmu sihir yang mereka ajarkan kepada manusia, seperti terbaca dalam QS al-Baqarah/2: 102.

e. Orang-orang yang Hatinya Condong pada Kesesatan; Fitnah yang mereka lakukan adalah dengan menimbulkan keraguan dan kesamaran seperti dapat dibaca dalam QS Âli ‘Imrân/3: 7.

f. Orang-orang yang Mendustakan Allah dan Ayat-ayat-Nya; Fitnah yang mereka lakukan adalah berupa jawaban dusta sebagaimana terlihat dalam QS al-An’âm/6: 23.

g. Orang-orang Zalim; Fitnah yang mereka lakukan adalah berupa kezaliman sebagaimana terlihat dalam QS Yûnus/10: 85 dan al-Anfâl/8: 25.

h. Allah; Beberapa ayat menunjukkan bahwa Allah melakukan fitnah dalam arti:

  1. Memberi cobaan, sebagaimana terdapat dalam QS al-Furqân/25: 20, al-Anfâl/8: 28, al-A’râf/7: 155, al-Anbiyâ`/21: 35, Thâhâ/20: 131, al-Taghâbun/64: 15, al-Mudatstsir/74: 31 dan al-Qamar/54: 27.
  2. Menguji, seperti dinyatakan dalam QS al-Naml/27: 47, al-Isrâ`/17: 60, al-Zumar/39: 49 dan al-’Ankabût/29: 2-3.
  3. Menimpakan azab, seperti terlihat dalam QS al-Dzâriyât/51: 13 dan al-Shâffât/37: 63.
  4. Menghendaki kesesatan seseorang sebagaimana terbaca dalam QS al-Mâ`idah/5: 41.
  5. Memimpakan bencana, sebagaimana dapat terbaca dalam QS al-Hajj/22: 11.

Dari para pelaku fitnah di atas, beberapa di antaranya menarik untuk dibahas lebih lanjut. Di antaranya:

  • Setan

Ayat terkait yang akan dibahas adalah QS al-A’râf/7: 27:

يَابَنِي ءَادَمَ لَا يَفْتِنَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ كَمَا أَخْرَجَ أَبَوَيْكُمْ مِنَ الْجَنَّةِ يَنْزِعُ عَنْهُمَا لِبَاسَهُمَا لِيُرِيَهُمَا سَوْآتِهِمَا إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لَا تَرَوْنَهُمْ إِنَّا جَعَلْنَا الشَّيَاطِينَ أَوْلِيَاءَ لِلَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ

Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya `auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan syaitan-syaitan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman.

Dengan ayat ini Allah, seperti dikatakan al-Baydhâwî, mengingatkan manusia agar tidak tertipu oleh setan. Tipuan setan kepada manusia adalah bahwa ia menghalangi mereka masuk surga dengan jalan menyesatkan mereka, sebagaimana ia telah menipu Adam dan Hawa dengan mengeluarkan keduanya dari surga. Larangan janganlah sekali-kali kamu …bermakna, “Janganlah kalian mengikuti setan dan tertipu olehnya.”

Salah satu alasan sekaligus penegasan mengapa manusia jangan sampai tertipu (disesatkan) oleh setan terdapat dalam penggalan ayat “Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kalian dari suatu tempat yang kalian tidak bisa melihat mereka.” Dijadikannya setan pemimpin bagi orang yang tidak beriman adalah karena di antara keduanya terdapat kesesuaian (tanâsub). Atau karena setan telah berhasil menundukan orang kafir menjadi manusia hina serta membawanya kepada apa yang diinginkan setan.[14]

  • Orang-orang Zalim

Ayat terkait yang akan dibahas dalam tulisan ini adalah QS al-Anfâl/8: 25:

وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.

Al-Thabârî menjelaskan bahwa dengan ayat ini Allah berkata kepada orang-orang yang beriman: “Takutlah, wahai orang-orang yang beriman, akan fitnah (ujian dan bencana) yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim saja. Yaitu orang-orang yang mengerjakan sesuatu yang telah dilarang; baik dosa-dosa besar yang berhubungan dengan sesama manusia (ijrâm) maupun dosa-dosa yang berhubungan dengan Tuhan.”[15]

Al-Qur`an, seperti dikatakan Jalaluddin Rakhmat dalam The Road to Allah, menjelaskan bahwa akibat amal itu tidak hanya akan menimpa palakunya, tetapi juga orang-orang yang tidak bersalah. Mereka mungkin saja anak-anak, masyarakat sekitar, bangsa, dan negara:

Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezkinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat (QS al-Nahl/16: 112).

Dan jika kami hendak membinasakan suatu negeri, Maka kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, Maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan kami), Kemudian kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya (QS al-Isrâ`/17: 16).

Orang yang berbuat jahat di suatu negeri itu bisa jadi hanya sebagian kecil. Tetapi kehancuran akan diderita oleh seluruh bangsa. Penderitaan kita sekarang, demikian Jalaluddin Rakhmat, adalah perwujudan dari amal buruk sebagian dari bangsa kita. Beberapa orang di antara kita mengambil kekayaan negara, dan jutaan orang harus membayar utang. Segelintir orang merusak hutan, tetapi semua makhluk menderita.[16]

Sampai di sini, mungkin ada yang bertanya, apakah ini bertentangan dengan prinsip keadilan Ilahi? Seseorang berbuat salah, tapi orang lain menanggung akibatnya. Bukankah Tuhan berkata: “Tidaklah seseorang akan menanggung dosa yang lain.” Jawabnya singkat. Yang tidak akan ditanggung adalah dosa. Dampak atau akibat akan mengenai bukan hanya kepada yang berbuat dosa, sebagaimana dinyatakan dalam QS al-Anfâl/8: 26 di atas. Seperti seorang bapak yang membakar rumahnya. Di rumah itu ada anaknya yang sedang tidur pulas, anak itu mati terbakar. Bapak yang membakar tentu saja masih hidup. Anak itu dikenai dampak dosa bapaknya, tetapi dia tidak menganggung dosa apa pun. Dia bahkan mendapat pahala mati syahid, karena menjadi korban kekejaman bapaknya. Si bapak menanggung dosa berlipat ganda sesuai dengan jumlah korban yang menderita karena dampak dosanya.[17]

3. Sasaran Fitnah

Hampir semua ayat yang terdapat term fitnah di dalamnya menunjukkan siapa atau apa yang menjadi objek atau sasaran fitnah. QS al-An’âm/6: 53 menunjukkan bahwa yang menjadi sasaran fitnah (ujian) dari Allah adalah orang-orang kaya. Yang menjadi bahan ujiannya adalah orang-orang miskin. QS Thâhâ/20: 40 menyebutkan bahwa yang menjadi sasaran fitnah (cobaan) dari Allah adalah Nabi Mûsâ. Pada ayat 85 surat yang sama disebutkan bahwa yang menjadi sasaran fitnah (ujian) dari Allah adalah kaum Nabi Mûsâ. Sedang pada ayat 90 surat ini ditunjukkan bahwa yang menjadi sasaran fitnah (cobaan) berupa anak lembu adalah kaum Nabi Hârûn. Sementara itu pada ayat 131 masih pada surat yang sama ditunjukkan bahwa yang menjadi sasaran fitnah (cobaan) berupa bunga kehidupan dunia adalah seluruh manusia.

Dalam QS Shâd/38: 24 ditunjukkan bahwa yang mendapat fitnah (ujian) dari Allah adalah Nabi Dâwud. Sedang pada ayat 34 surat yang sama disebutkan bahwa yang mendapat fitnah (ujian) dari Allah adalah Nabi Sulaymân. Dalam QS al-Dukhân/44: 17 ditunjukkan bahwa yang mendapat fitnah (ujian) adalah kaum Fir’aun. QS al-Burûj/85: 10 dan al-Nahl/16: 110 menunjukkan bahwa yang mendapat fitnah (cobaan) adalah kaum Mukmin.

QS al-Mâ`idah/5: 71 mengisyaratkan bahwa para pembunuh para nabi mendapat fitnah (bencana) akibat pembunuhan atas para nabi itu. QS al-A’râf/7: 155 menunjukkan bahwa 70 orang yang dipilih Nabi Mûsâ dari kaumnya untuk memohonkan tobat kepada Allah, mendapat fitnah (cobaan) berupa gempa bumi. QS al-Tawbah/9: 126 menunjukkan bahwa orang-orang munafik mendapatkan fitnah (ujian) supaya mereka bertobat dan mendapat pelajaran, tapi mereka tidak mau bertobat tidak pula mengambil pelajaran. Dalam QS al-’Ankabût/29: 2 dan 10 disebutkan bahwa orang-orang yang secara lisan telah berkata iman akan mendapat fitnah (ujian). Pada ayat 3 surat ini dijelaskan bahwa orang-orang terdahulu telah mendapat fitnah (ujian) dari Allah.

Dalam QS al-Dzâriyât/51: 13 dijelaskan bahwa orang-orang durhaka akan mendapat fitnah (azab) pada hari pembalasan kelak. QS al-Isrâ`/17: 60 menyebutkan bahwa yang mendapatkan fitnah (ujian) dari Allah berupa mimpi yang diperlihatkan kepada Nabi Saw. adalah manusia. Dalam QS al-Naml/27: 47 disebutkan bahwa yang mendapat fitnah (ujian) berupa kambing betina adalah kaum Nabi Shaleh. QS al-Jinn/72: 17 menunjukkan bahwa manusia yang tetap berjalan lurus di atas agama Islam, akan mendapat fitnah (cobaan) dari Allah berupa rezki yang banyak. QS al-Anfâl/8: 25 menunjukkan bahwa orang-orang yang zalim dan orang-orang yang ada di sekitarnya akan mendapat fitnah (bencana) akibat ulah orang-orang zalim itu. Ayat 39 surat yang sama menunjukkan bahwa orang-orang yang mendapat fitnah (gangguan dan penyiksaan) dari orang-orang kafir adalah orang-orang yang beriman.

QS al-Hajj/22: 53 menyatakan bahwa orang-orang yang hatinya kasar dan berpenyakit merupakan sasaran fitnah (cobaan dan godaan) yang dilakukan setan. QS al-Furqân/25: 20 menyatakan bahwa sebagian manusia merupakan sasaran fitnah (cobaan) bagi sebagian lainnya. QS al-Mudatstsir/74: 31 menyatakan bahwa yang menjadi sasaran fitnah (cobaan), berupa bilangan para malaikat penjaga neraka, adalah orang-orang kafir. QS al-Shâffât/37: 63 menyebutkan bahwa yang menjadi sasaran fitnah (azab akhirat) berupa pohon zaqqum adalah orang-orang zalim.

Dari sejumlah pihak (objek) yang menjadi sasaran fitnah di atas, yang menarik untuk sekilas dibahas lebih lanjut adalah yang disebut dalam QS al-An’âm/6: 53, Thâhâ/20: 131, dan al-’Ankabût/29: 10.

- QS al-An’âm/6: 53:

وَكَذَلِكَ فَتَنَّا بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لِيَقُولُوا أَهَؤُلَاءِ مَنَّ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنْ بَيْنِنَا أَلَيْسَ اللَّهُ بِأَعْلَمَ بِالشَّاكِرِينَ

Dan demikianlah telah Kami uji sebahagian mereka (orang-orang yang kaya) dengan sebahagian mereka (orang-orang miskin), supaya (orang-orang yang kaya itu) berkata: “Orang-orang semacam inikah di antara kita yang diberi anugerah oleh Allah kepada mereka?” (Allah berfirman): “Tidakkah Allah lebih mengetahui tentang orang-orang yang bersyukur (kepada-Nya)?”

Ayat ini berhubungan erat dengan dua ayat sebelumnya; ayat 51-52:

Dan berilah peringatan dengan apa yang diwahyukan itu kepada orang-orang yang takut akan dihimpunkan kepada Tuhannya (pada hari kiamat), sedang bagi mereka tidak ada seorang pelindung dan pemberi syafa`atpun selain daripada Allah, agar mereka bertakwa.

Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi hari dan di petang hari, sedang mereka menghendaki keredhaan-Nya. Kamu tidak memikul tanggung jawab sedikitpun terhadap perbuatan mereka dan merekapun tidak memikul tanggung jawab sedikitpun terhadap perbuatanmu, yang menyebabkan kamu (berhak) mengusir mereka, sehingga kamu termasuk orang-orang yang zalim.

Jalaluddîn al-Suyûthî mengutip riwayat dari Ibn Mas’ûd yang melaporkan bahwa pada suatu hari sekelompok tokoh Quraisy menemui Nabi Saw. yang ketika itu sedang bersama Shuhayb, ‘Ammâr, Bilâl, Khabbâb dan orang-orang Islam dari kalangan kaum dhu’afa lainnya. Para pentolan Quraisy itu berkata: “Hai Muhammad, apakah kamu rela jika di antara kami (justru) kaummu itu yang mendapat anugerah dari Allah, atau haruskah kami mengikuti mereka? Usirlah mereka darimu, supaya jika kamu mengusir mereka, kami mengikutimu.” Maka turunlah firman-Nya: “Dan berilah peringatan dengan apa yang diwahyukan itu kepada orang-orang yang takut akan dihimpunkan kepada Tuhannya…sampai…Dan Allah lebih mengetahui tentang orang-orang yang zalim (QS al-An’âm/6: 51-58).[18]

Berdasarkan riwayat ini maka yang dimaksud mereka (orang-orang yang kaya) dalam QS al-An’âm/6: 53 di atas adalah para pemuka Quraisy, sedangkan mereka (orang-orang miskin) adalah para pengikut awal Nabi Saw. dari kalangan kaum lemah dan kaum kecil lainnya.

QS al-An’âm/6: 53 menjelaskan bahwa Allah menguji para pemuka Quraisy itu  dengan para pengikut awal Nabi Saw dari kalangan kaum lemah dan kaum kecil lainnya. Seperti biasa, dengan nada mengejek dan menghina para pentolan Quraisy itu berkata: “Orang-orang semacam inikah di antara kita yang diberi anugerah oleh Allah kepada mereka?”[19]

- Thâhâ/20: 131:

وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَى مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَى

Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami cobai mereka dengannya. Dan karunia Tuhan kamu adalah lebih baik dan lebih kekal.

Menujukan mata pada sesuatu berarti memperlama pandangan mata sehingga nyaris tidak mau menghentikannya karena menilai indah dan mengagumi sesuatu itu seraya berharap menjadi miliknya, seperti yang dilakukan oleh orang-orang ketika melihat harta milik Qârûn. Ketika itu mereka berkata: “Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qârûn. Sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar” (QS al-Qashash/28: 79). Sampai orang-orang yang berilmu dan beriman mengingatkan mereka yang kagum dengan harta milik Qârûn itu: “Kecelakaan yang besarlah bagi kalian, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh” (QS al-Qashash/28: 80).[20]

Dari penjelasan di atas, seperti dikatakan al-Zamakhsyarî, dapat diambil kesimpulan bahwa dimaafkan pandangan mata atas sesuatu yang indah, menarik dan mengagumkan tapi dilakukan hanya sebentar saja lalu pandangan mata dipalingkan darinya. Larangan pada penggalan “dan janganlah kamu tujukan kedua matamu…” ditujukan terhadap pandangan mata yang terfokus pada bunga kehidupan dunia sehingga menimbulkan kekaguman dan kecintaan atas keindahan dunia tersebut. Orang-orang beriman dan bertakwa diwajibkan memalingkan mata dari keindahan dan kemewahan dunia yang dengannya Allah menguji golongan-golongan dari orang kafir.

Ayat juga memberi penjelasan mengapa orang-orang beriman tidak boleh memusatkan matanya pada keindahan dunia dan memenuhi hatinya dengan kekaguman pada keindahan tersebut. Yaitu karena karunia Tuhan adalah lebih baik dan lebih kekal. Karunia Tuhan yang lebih baik dan lebih kekal itu bisa berupa pahala dan nikmat akhirat yang disiapkan Allah bagi kaum beriman dan bertakwa. Atau beruoa nikmat Islam dan kenabian. Kenapa karunia Tuhan lebih baik dari keindahan dunia yang dimiliki beberapa golongan kaum kafir? Karena, tegas, al-Zamakhsyarî, harta kekayaan mereka umumnya diliputi harta hasil rampasan, pencurian dan harta haram lainnya. Tentu saja karunia Allah lebih baik. Sebab Dia tidak pernah menisbahkan sesuatu kepada diri-Nya kecuali yang halal dan baik.[21]

- Al-’Ankabût/29: 10:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ ءَامَنَّا بِاللَّهِ فَإِذَا أُوذِيَ فِي اللَّهِ جَعَلَ فِتْنَةَ النَّاسِ كَعَذَابِ اللَّهِ

Dan di antara manusia ada orang yang berkata: “Kami beriman kepada Allah”, maka apabila ia disakiti (karena ia beriman) kepada Allah, ia menganggap fitnah manusia itu sebagai azab Allah.

Keseluruhan surat al-’Ankabût, dari awal hingga akhirnya, terjalin dalam satu benang merah. Ia dibuka dengan pembicaraan tentang iman, ujian yang timbul akibat iman (fitnah) dan konsekuensi iman sejati. Iman bukan kata-kata lisan, melainkan kesabaran menghadapi berbagai kesulitan dan segala rintangan. Jalan iman memang dipenuhi aneka kesulitan dan bermacam rintangan. Namun, seperti dikatakan ayat, ada orang yang mengaku beriman, ketika ia disakiti karena imannya itu, ia menganggap hal itu sebagai azab-Nya. Orang seperti ini mengira bahwa iman itu ringan, tanpa beban, dan tidak menuntut selain pengucapan lisan. Tatkala ia mendapat ujian, cobaan dan gangguan dari manusia karena iman yang diucapkan dengan lidahnya, ia anggap semua penganiayaan manusia itu sebagai azab Allah.

Ia menghadapinya dengan panik dan keluh kesah. Maka hilanglah dalam dirinya nilai keimanan dan sirnalah dalam hatinya akidah keyakinan. Karena begitu beratnya siksaan dan gangguan dari manusia yang ia terima akibat kata iman yang baru diucapkannya secara lisan, ia sampai berkeyaninan bahwa tidak akan ada lagi siksaan setelah siksaan manusia yang dirasakannya. Yang namanya azab Allah pun baginya tidak ada. Seiring dengan keyakinan ini, hilanglah iman darinya yang sejak awal memang baru sebatas pengakuan lisan.[22]

4. Penyebab Fitnah

Dalam QS al-Anfâl/8: 73 dinyatakan:

وَالَّذِينَ كَفَرُوا بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ إِلَّا تَفْعَلُوهُ تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الْأَرْضِ وَفَسَادٌ كَبِيرٌ

Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah itu, niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar.

Dari ayat ini diperoleh kesimpulan bahwa di antara penyebab timbulnya fitnah dalam arti kekacauan adalah tidak dilaksanakannya perintah Allah oleh kaum Muslim.

Sementara itu dalam QS al-Nûr/24: 63 dinyatakan:

لَا تَجْعَلُوا دُعَاءَ الرَّسُولِ بَيْنَكُمْ كَدُعَاءِ بَعْضِكُمْ بَعْضًا قَدْ يَعْلَمُ اللَّهُ الَّذِينَ يَتَسَلَّلُونَ مِنْكُمْ لِوَاذًا فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul di antara kamu seperti panggilan sebahagian kamu kepada sebahagian (yang lain). Sesungguhnya Allah telah mengetahui orang-orang yang berangsur-angsur pergi di antara kamu dengan berlindung (kepada kawannya), maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.

Dari ayat ini dapat diambil makna bahwa di antara penyebab timbulnya fitnah dalam arti cobaan atau azab adalah menyalahi perintah Rasul.

Sedangkan dalam QS Yûnus/10: 83 dinyatakan:

فَمَا ءَامَنَ لِمُوسَى إِلَّا ذُرِّيَّةٌ مِنْ قَوْمِهِ عَلَى خَوْفٍ مِنْ فِرْعَوْنَ وَمَلَئِهِمْ أَنْ يَفْتِنَهُمْ وَإِنَّ فِرْعَوْنَ لَعَالٍ فِي الْأَرْضِ وَإِنَّهُ لَمِنَ الْمُسْرِفِينَ

Maka tidak ada yang beriman kepada Musa, melainkan pemuda-pemuda dari kaumnya (Musa) dalam keadaan takut bahwa Fir`aun dan pemuka-pemuka kaumnya akan menyiksa mereka. Sesungguhnya Fir`aun itu berbuat sewenang-wenang di muka bumi. Dan sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang melampaui batas.

Dari ayat in diperoleh keterangan bahwa salah satu penyebab fitnah dalam arti penyiksaan adalah ketidakpatuhan terhadap perintah Fir`aun dan para pemuka kaumnya. Dalam hal ini Fir’aun adalah simbol dari penguasa tiran, dan para pemuka kaumnya adalah simbol dari perangkat pendukung kekuasaan penguasa tiran itu. Di mana-mana, penguasa tiran dan perangkat kekuasaannya selalu menggunakan cara-cara intimidasi dan penyiksaan atas siapa saja yang membangkang perintah penguasa itu.

F. Kesimpulan

Secara etimologi fitnah memiliki arti antara lain al-ibtilâ`, al-imtihân dan al-ikhtibâr. Kesemuanya berarti cobaan dan ujian. Dalam al-Qur`an, term fitnah memiliki banyak makna seperti ujian dan cobaan, mencelakakan diri sendiri, menyerang, menyiksa, upaya memalingkan, menipu, azab, kekacauan, penganiayaan (penindasan), keraguan dan kesamaran, syirik, kesesatan, bencana, jawaban dusta (kedustaan), gangguan, kezaliman, murtad, siksaan, dan gila.

Dari penelusuran terhadap term fitnah dalam al-Qur`an ditemukan keterangan bahwa term tersebut dilakukan oleh banyak pihak seperti orang-orang kafir, setan, Fir’aun dan para pemukanya, malaikat Harut dan Marut, orang-orang yang hatinya condong pada kesesatan, orang-orang yang mendustakan Allah dan ayat-ayat-Nya, orang-orang zalim, dan bahkan Allah.

Kecuali Allah serta malaikat Harut dan Marut, semua pelaku fitnah di atas melakukan fitnah dalam pengertian negatif. Orang-orang kafir melakukan fitnah dalam arti serangan atau permusuhan, memalingkan dari apa yang telah diwahyukan Allah, kekacauan, penganiayaan dan penindasan, gangguan, dan mengolok-olok. Setan melakukan fitnah dalam arti tipuan. Fir’aun dan para pemukanya melakukan fitnah dalam arti siksaan. Orang-orang yang hatinya condong pada kesesatan melakukan fitnah dalam arti menimbulkan keraguan dan kesamaran. Orang-orang yang mendustakan Allah dan ayat-ayat-Nya melakukan fitnah dalam arti memberikan jawaban dusta. Orang-orang zalim melakukan fitnah dalam arti kezaliman.

Sedangkan malaikat Harut dan Marut memberikan fitnah dalam arti memberikan cobaan. Sementara itu Allah memberikan fitnah dalam arti memberi cobaan dan ujian, menimpakan azab kepada yang berhak mendapatkannya, menghendaki kesesatan seseorang, dan menimpakan bencana akibat ulah manusia.

Dari ayat-ayat fitnah juga diperoleh kesimpulan bahwa jika fitnah itu berasal dari Allah, maka di antara penyebabnya adalah tidak dilaksanakannya perintah Allah oleh kaum Muslim serta penyimpangan atas perintah Rasul. Sedangkan jika fitnah itu  berasal dari penguasa tiran dan para pendukungnya—yang dalam al-Qur`an disimbolkan dengan Fir`aun dan para pemuka kaumnya, maka penyebabnya adalah ketidakpatuhan terhadap perintah penguasa tiran dan para pendukungnya itu.

Terakhir, namun terpenting. Sejauh penelusuran penulis atas term-term fitnah dalam al-Qur`an, tidak ditemukan term fitnah dalam arti tuduhan dusta seperti yang kita artikan selama ini ketika berkata: “Ini fitnah. Ini mengada-ada!” Namun bisa saja fitnah sebagaimana kita artikan itu menimbulkan salah satu pengertian fitnah seperti yang dimaksudkan dalam al-Qur`an misalnya kekacauan, penganiayaan, bencana atau siksaan.

Wallâh a’lam.

Daftar Pustaka

Al-Alûsî, Mahmûd, Rûh al-Ma’ânî fî Tafsîr al-Qur`ân al-‘Azhîm wa al-Sab’ al-Matsânî, Beirut: Dâr Ihyâ` al-Turâts al-’Arabî, tt.

Al-Baydhâwî, ‘Abdullâh bin ‘Umar, Anwâr al-Tanzîl wa Asrâr al-Ta`wîl Tafsir, Beirut: Dâr al-Fikr, 1996.

Ibn Fâris, Abû al-Husayn Ahmad, Mu’jam al-Maqâyîs fî al-Lughah, Beirut: Dâr al-Fikr lî al-Thibâ’ah wa al-Nasyr wa al-Tawzî’, cet. I, 1994.

Ibn Katsîr, Ismâ’îl, Tafsîr al-Qur`ân al-’Azhîm, Beirut: Dâr Ihyâ` al-Turâts al-’Arabî, tt.

Ibn Manzhur, Muhammad bin Makram, Lisân al-’Arab, Beirut: Dâr Shâdir, cet. I,

Al-Ishfahanî, al-Raghib, Mu’jam Mufradât Alfâzh al-Qur`ân, Beirut: Dâr al-Fikr, tt.

Al-Qurthubî, Abû ‘Abdullâh, Tafsîr al-Qurthubî, Beirut: Dâr al-Kutub al-’Ilmiyah, tt.

Quthb, Sayyid, Fî Zhilâl Al-Qur`an, Kairo: Dâr al-Syurûq, cet. XVII, 1990.

Rakhmat, Jalaluddin, The Road to Allah, Bandung: Mizan & Muthahhari Press, cet. II, 2007.

Al-Suyûthî, Jalaludîn, al-Durr al-Mantsûr, Beirut: Dâr al-Fikr, tt.

Al-Thabarî, Ibn Jarîr, Muhammad, Tafsîr al-Thabarî, Beirut: Dâr al-Ma’rifah, 1990.

Yûsuf ’Ali, ’Abdullah, The Glorious Kur`an: Translation and Commentary, Lahore: Idârât al-Buhûts al-’Ilmiyah wa al-Iftâ` wa al-Da’wah wa al-Irsyâd, tt.

Al-Zamakhsyarî, Mahmûd, Tafsîr al-Kasysyâf, Beirut: Dâr al-Ma’rifah, cet. I, 2005.


[1] Muhammad bin Makram bin Manzhur, Lisân al-’Arab, Beirut: Dâr Shâdir, cet. I, vol. 13, hal. 317.. Lihat pula al-Raghib al-Ishfahanî, Mu’jam Mufradât Alfâzh al-Qur`ân, Beirut: Dâr al-Fikr, tt., hal. 385-386, dan Abû al-Husayn Ahmad Ibn Fâris, Mu’jam al-Maqâyîs fî al-Lughah, Beirut: Dâr al-Fikr lî al-Thibâ’ah wa al-Nasyr wa al-Tawzî’, cet. I, 1994, hal. 835.

[2] Lihat juga QS. al-Shâffât/37: 63.

[3]Lihat juga QS al-Isrâ`/17: 73.

[4] Lihat juga QS al-’Ankabût/29: 2-3, al-Naml/27: 47, al-Isrâ`/17: 60, dan al-Zumar/39: 49..

[5] Lihat juga QS al-Jinn/72: 17, al-Baqarah/2: 102, dan al-A’râf/7: 155.

[6] Lihat juga QS al-Baqarah/2: 193, al-Anfâl/8: 73, al-Tawbah/9: 47-49.

[7] Lihat pula QS al-Shâffât/37: 162.

[8] Lihat pula QS al-Hajj/22: 11.

[9] Muhammad bin Jarîr al-Thabarî, Tafsîr al-Thabarî, Beirut: Dâr al-Ma’rifah, 1990, vol. 2, hal. 111.

[10] Sayyid Quthb, Fî Zhilâl Al-Qur`an, Kairo: Dâr al-Syurûq, cet. XVII, 1990, vol. 1, hal. 189-190. Baca juga’Abdullah Yûsuf ’Ali, The Glorious Kur`an: Translation and Commentary, Lahore: Idârât al-Buhûts al-’Ilmiyah wa al-Iftâ` wa al-Da’wah wa al-Irsyâd, tt., hal. 76.

[11] Quthb, Fî Zhilâl Al-Qur`an…, vol. 1, hal. 226. Lihat juga Yûsuf  ’Ali, The Glorious Kur`an…,hal. 85.

[12] Ismâ’îl bin Katsîr, Tafsîr al-Qur`ân al-’Azhîm, Beirut: Dâr Ihyâ` al-Turâts al-’Arabî, vol. 4, hal. 35.

[13] Ibn Katsîr, Tafsîr al-Qur`ân…, vol. 4, hal. 35.

[14] ‘Abdullâh bin ‘Umar al-Baydhâwî, Anwâr al-Tanzîl wa Asrâr al-Ta`wîl Tafsir, Beirut: Dâr al-Fikr, 1996, vol. 3, hal. 14. Lihat juga Mahmûd al-Alûsî, Rûh al-Ma’ânî fî Tafsîr al-Qur`ân al-‘Azhîm wa al-Sab’ al-Matsânî, Beirut: Dâr Ihyâ` al-Turâts al-’Arabî, tt. vol. 8, hal. 106.

[15] Al-Thabârî,Tafsîr al-Thabarî…, vol. 9, hal. 114.

[16] Jalaluddin Rakhmat, The Road to Allah, Bandung: Mizan & Muthahhari Press, cet. II, 2007, hal. 123-124.

[17] Rakhmat, The Road…, hal. 125-126.

[18] Jalaludîn al-Suyûthî, al-Durr al-Mantsûr, Beirut: Dâr al-Fikr, tt., vol. 3, hal. 271.

[19] Lihat Abû ‘Abdullâh al-Qurthubî, Tafsîr al-Qurthubî, Beirut: Dâr al-Kutub al-’Ilmiyah, tt., vol. 6, hal. 434.

[20] Mahmûd al-Zamakhsyarî, Tafsîr al-Kasysyâf, Beirut: Dâr al-Ma’rifah, cet. I, 2005, hal. 670.

[21] Al-Zamakhsyarî, Tafsîr al-Kasysyâf…, hal. 670-671.

[22] Quthb, Fî Zhilâl Al-Qur`an…,  vol. 5, hal. 2723.

Sumber: http://abualitya.wordpress.com/2010/12/02/term-fitnah-dalam-al-quran-kajian-tematik/

 

Tag untuk artikel ini:

» arti fitnah » pengertian fitnah dalam islam » pembalasan fitnah dengan fitnah

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>